Rilis pers / 2 April 2019

Calon wakil presiden Republik Indonesia Sandiaga Uno dihubungkan dengan pembayaran sejumlah jutaan dollar yang dipindahkan dari perusahaan Indonesia ke perusahaan lepas pantai tak dikenal

  • Laporan baru menghubungkan Sandiaga Uno kepada pembayaran sejumlah sekurangnya US$43 juta dari sebuah perusahaan batu bara Indonesia, Berau Coal, kepada sebuah perusahaan lepas pantai di Seychelles.
  • Laporan itu menyimpulkan bahwa Sandiaga Uno memiliki andil dalam pembayaran-pembayaran tersebut dan kemungkinan dengan satu atau lain cara mendapat keuntungan pribadi darinya.
  • Pembayaran-pembayaran ini, bersama dengan sejumlah transaksi meragukan lainnya, terhubung ke mitra bisnis Sandiaga Uno, Rosan Roeslani, menyumbang kepada kegagalan Berau Coal membayar utang-utangnya.
  • Laporan ini menyoroti risiko baru yang dihadapi oleh mereka yang bermaksud membiayai dan berinvestasi di perusahaan batu bara Indonesia: bagaimana mereka bisa kehilangan uang dan reputasi.
  • Global Witness juga merilis laporan tentang penjualan perusahaan batu bara milik seorang pejabat tinggi Indonesia, Luhut Pandjaitan kepada pemilik yang dirahasiakan menimbulkan pertanyaan tak terjawab.

Rabu 2 April 2019Sebuah laporan baru dari LSM Global Witness mengungkapkan bagaimana calon wakil presiden Republik Indonesia Sandiaga Uno telah memiliki andil dalam pembayaran-pembayaran sekurangnya senilai US$43 juta dari sebuah perusahaan besar batu bara Indonesia kepada sebuah perusahaan tak dikenal lepas pantai, dan mungkin ia secara diam-diam memperoleh keuntungan dari pembayaran ini dengan satu dan lain cara.

Berita ini datang hanya beberapa minggu sebelum Indonesia menyelenggarakan pemilihan umum, memunculkan persoalan terkait kepentingan publik mengenai transaksi bisnis di masa lalu dari seorang politisi berpengaruh. 

Laporan ini mengungkapkan bagaimana perusahaan yang pernah turut dimiliki oleh Sandiaga Uno mengambil alih sebuah perusahaan besar batu bara, Berau Coal, yang kemudian setuju untuk melakukan pembayaran besar biaya konsultasi kepada sebuah perusahaan lepas pantai tak dikenal, Velodrome Worldwide Ltd.

Laporan ini merinci bagaimana sekurangnya US$43 juta pembayaran meragukan dilakukan oleh Berau Coal kepada Velodrome antara tahun 2010 dan 2012.

Laporan ini juga mengungkapkan bagaimana Sandiaga Uno selayaknya tahu mengenai pembayaran ini karena hal itu dilakukan berdasarkan perjanjian yang dibuat ketika ia merupakan investor besar di Berau Coal, dan pembayaran itu terus berlanjut ketika ia menjadi anggota dewan komisaris yang bertugas mengawasi dewan direksi Berau. 

Lebih jauh lagi, ia mungkin memiliki kepentingan di Velodrome dan secara diam-diam mengambil keuntungan dari pembayaran itu dengan satu dan lain cara. Ia pernah memiliki Velodrome dan seorang mitra lamanya yang pernah bekerja dengannya merupakan pemilik terakhir Velodrome yang diketahui.

Lebih daripada itu, ini bukan merupakan satu-satunya pembayaran meragukan yang dilakukan oleh Berau Coal. Sejumlah transaksi meragukan lain terhubung dengan mitra bisnis Sandiaga Uno, Rosan Roeslani. 

Pembayaran ke Velodrome bersama arus uang keluar ini telah melemahkan neraca keuangan Berau Coal, menyumbang kepada kegagalan perusahaan itu dalam pembayaran ratusan juta dollar utang mereka, serta berdampak buruk kepada para investornya yang lain.

Secara global, batu bara menjadi berisiko dan berbiaya tinggi bagi mereka yang membiayai dan memberi dukungan politik kepadanya..

Namun di Indonesia, sektor ini menjadi kontroversi akibat polusi udara, pencemaran air dan tanah serta skandal korupsi baru-baru ini. 

Laporan ini memberi peringatan tambahan kepada bank dan para investor yang masih mempertimbangkan pembiayaan sektor batu bara Indonesia: mereka bisa kehilangan uang maupun reputasi.

Global Witness juga menerbitkan laporan kedua yang berfokus kepada pertanyaan tak terjawab mengenai transaksi bisnis Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Pandjaitan.

Laporan ini merangkum penjualan saham di perusahaan batu bara milik Luhut Pandjaitan, Toba Bara Sejahtra, dengan nilai yang tak diungkapkan ke publik, juga kepada pemilik akhir yang tak diketahui umum.

Dua fakta ini merupakan persoalan kepentingan publik karena terjadi pada saat Luhut Pandjaitan menjabat di pemerintahan. Laporan ini menyentuh persoalan kepemilikan perusahaan oleh politisi, yang sempat menjadi subyek panas dalam perdebatan pada masa kampanye pemilu kali ini.

Stuart McWilliam, Manajer Kampanye Anti Perubahan Iklim, Global Witness:

“Sandiaga Uno mungkin bukan lagi pebisnis. Namun sebagai seorang yang mengincar salah satu jabatan tertinggi di Indonesia, ia seharusnya sangat berpeduli untuk menjelaskan masalah ini. Hingga kini ia belum memberi jawaban yang kredibel mengenai perannya dalam pembayaran kepada Velodrome, dan ketika diminta untuk berkomentar, ia tak memberikan jawaban. “

“Para pemodal internasional dan investor telah memungkinkan industri batu bara di Indonesia untuk berjalan, sekalipun sektor ini dihubungkan secara erat dengan perubahan iklim, polusi udara yang mematikan, pencemaran air dan tanah serta kasus korupsi akhir-akhir ini.”

“Penemuan-penemuan ini menawarkan alasan tambahan yang kuat mengapa bank dan para investor harus menghindari sektor batu bara Indonesia, dan mengapa politisi harus menarik dukungan mereka dari pengembangan pembangkit listrik tenaga batu bara di Indonesia.”

/ BERAKHIR

Kontak

Adam McGibbon, Campaigner, Climate Change

[email protected]

07730764438

Stuart McWilliam, Campaign Leader, Climate Change

[email protected]

+44 (0)7711007199

Catatan untuk editor

  1. Wawancara: tersedia berdasarkan permintaan. Silakan hubungi Stuart McWilliam dan [email protected].
  2. Foto dan video: Bisa diakses melalui tautan berikut.
  3. Laporan tentang Berau Coal ini dirilis di tengah cerita tentang kasus dan tuduhan korupsi yang terjadi pada sektor batu bara Indonesia, termasuk kasus korupsi yang masih ditangani terkait pembangunan pembangkit listrik Riau-1, serta penemuan belum lama inimengenai perusahaan energi besar, Marubeni dan Alstom menyuap anggota parlemen untuk pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga batu bara. Laporan ini menyoroti risiko tambahan yang tak banyak terungkap. Temuan dalam laporan ini seharusnya membunyikan alarm tanda bahaya bagi bank dan para investor yang masih mempertimbangkan pembiayaan pembangkit listrik tenaga bara di Indonesia yang berisiko tinggi mengingat besarnya jumlah modal yang dibutuhkan untuk membangun dan mengoperasikannya.   
  4. Berpindah dari sektor batu bara merupakan bagian dari kecenderungan finansial global. Selain persoalan yang diangkat oleh Global Witness dari laporan ini, penurunan pembiayaan sektor batu bara sedang terjadi secara cepat. Pada bulan Februari 2019, the Institute for Energy Economics and Financial Analysis menerbitkan laporan penelitian yang memperlihatkan bahwa modal global ‘meninggalkan sektor batu bara dengan tingkat yang mengkhawatirkan’, dengan lebih dari 100 lembaga keuangan global keluar dari sektor coal. Bank, lembaga penjamin dan peminjam juga mengumumkan pembatasan setiap rata-rata dua pekan sekali.
Rilis pers mutakhir