Indonesia's Shifting Coal Money banner image

Briefing / 2 April 2019

Bagian 1: Sandiaga Uno dan transaksi lepas pantai Berau Coal

Salah satu politisi terkenal Indonesia Sandiaga Uno mungkin telah mengambil keuntungan dari pembayaran yang dilakukan oleh salah satu perusahaan batu bara terbesar Indonesia ke perusahaan lepas pantai tak dikenal.

Berau Coal, salah satu perusahaan batu bara terbesar Indonesia, membayar setidaknya senilai US$43 juta antara tahun 2010 dan 2012 ke perusahaan lepas pantai tak dikenal di Seychelles bernama Velodrome Worldwide Limited.

Sebuah laporan baru dari Global Witness menyimpulkan bahwa politikus dan calon wakil presiden Republik Indonesia Sandiaga Uno – yang juga pada saat itu adalah investor besar di  Berau Coal – memiliki andil dalam pembayaran-pembayaran ini dan kemungkinan dengan satu atau lain cara mengambil keuntungan dari pembayaran tersebut.  Lebih lanjut, pembayaran ini berdampak serius terhadap Berau Coal dan para investornya yang lain.

Baca laporan kami selengkapnya: Pengalihan Uang Batu Bara Indonesia (pdf, 2300KB)

Batu bara semakin terlihat sebagai sumber energi berbiaya dan berisiko tinggi. Sumbangannya terhadap polusi udara mematikan dan krisis iklim juga sudah diketahui dengan luas.

Namun penyelidikan kami ini menyoroti risiko tambahan khususnya bagi mereka yang membuat pilihan kontroversial untuk berinvestasi pada sektor batu bara, termasuk bank dan pemodal yang telah menyediakan pinjaman vital bagi industri tersebut.

Hal ini menunjukkan bagaimana salah satu perusahaan batu bara besar di Indonesia mengalihkan sejumlah besar uang ke perusahaan tak dikenal yang dimiliki secara anonim sehingga membuat uang itu sulit untuk dilacak.

Laporan ini menyoroti konsekuensi yang merugikan bagi para investor: pergeseran uang ini menyumbang kepada pelemahan neraca keuangan Berau Coal yang nantinya menyebabkan kegagalan perusahaan tersebut dalam membayar utangnya yang bernilai ratusan juta dolar.

Sejumlah besar pembangkit listrik tenaga batu bara baru sedang direncanakan di Indonesia. Miliaran dolar akan diperlukan dalam pembiayaannya. Temuan kami memberi alasan tambahan mengapa pemerintah Indonesia, bank internasional dan investor harus menghindari sektor batu bara Indonesia.

Temuan utama penyelidikan kami

Pembayaran meragukan Berau Coal ke Velodrome

Pada bulan Desember 2009, Berau Coal berada di bawah kendali Recapital Advisers, perusahaan investasi berbasis di Jakarta, yang ikut didirikan dan dimiliki oleh Sandiaga Uno, yang saat itu merupakan seorang pengusaha.

Segera sesudahnya, perusahaan raksasa batu bara tersebut membuat perjanjian dengan perusahaan tak dikenal bernama Velodrome Worldwide yang akan memberi nasehat strategis, bisnis dan operasional dengan komisi bulanan sebesar US$2 juta.

Pembayaran ke Velodrome ini nilainya hampir sama dengan jumlah keseluruhan gaji ratusan karyawan Berau Coal. Bahkan setelah Berau Coal mulai merugi, pembayaran ke Velodrome tetap berlanjut hingga akhir tahun 2012.

Namun tidak jelas saran apa, jika pun ada, yang diberikan oleh Velodrome sebagai imbalan atas upahnya. Ketika perjanjian ditinjau ulang pada tahun 2012 oleh pemegang saham baru di Berau Coal, pembayaran ini dihentikan "berdasarkan tinjauan dari layanan yang diberikan." Perusahaan kemudian mengakui bahwa "nilai bisnis" dari kontraknya dengan Velodrome "tidak jelas".

Audit dan penyelidikan yang telah dilakukan juga menemukan puluhan juta dolar pembayaran meragukan yang dilakukan oleh Berau Coal yang terhubung kepada Rosan Roeslani, mitra Sandiaga Uno pada saat itu, termasuk dugaan kenaikan gaji diam-diam sebesar US$3 juta untuk Roeslani. Uang mengucur keluar dari Berau Coal.

Kaitan Sandiago Uno dengan Velodrome Worldwide

Pada awalnya, hampir tidak ada yang diketahui umum tentang Velodrome Worldwide Limited atau pemilik sebenarnya.

Pada tahun 2016 kebocoran Offshore Leaks mengungkapkan bahwa Sandiaga Uno menjadi pemegang saham tunggal dan direktur Velodrome sejak pendirian perusahaan itu pada bulan Oktober 2007 hingga Mei 2009.

Segera sesudah periode ini, kendali perusahaan diteruskan kepada Ng Soon Kai, seorang pengacara Singapura. Ng Soon Kai adalah pemegang saham Velodrome terakhir yang diketahui umum, beberapa bulan sebelum pembayaran dilakukan. Penyelidikan kami mengungkapkan adanya hubungan erat antara Ng Soon Kai dan Sandiaga Uno. Mereka merupakan mitra bisnis yang sudah lama berkerjasama, dan Ng Soon Kai pernah bekerja di beberapa perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Sandiaga Uno. Namun kedua orang ini tidak memberi jawaban ketika kami bertanya mengenai hubungan mereka dengan Velodrome Worldwide.

Sandiaga Uno selayaknya tahu mengenai keputusan Berau Coal untuk membuat perjanjian kerjasama dengan Velodrome pada bulan Januari 2010, dan ia juga berada dalam posisi untuk mempengaruhi transaksi itu, karena ia merupakan salah satu pendiri dan pemegang saham Recapital, yang ketika itu mengendalikan Berau Coal.

Dari bulan Maret 2010 hingga Juni 2013, ia juga duduk di Dewan Komisaris Berau Coal sementara mitranya dan rekan penanam modalnya, Roslan Roeslani, merupakan presiden direktur antara bulan Agustus 2010 dan Maret 2013.

Disebabkan ketiadaan penjelasan alternatif yang kredibel, tampaknya wajar untuk menyimpulkan bahwa Sandiaga Uno memiliki andil dalam pembayaran dari Berau Coal ke Velodrome, dan ia mungkin dengan satu atau lain cara mendapat keuntungan secara pribadi dari transaksi ini.

Risiko-risiko yang terungkap

Apa sesudah itu bagi Sandiaga Uno dan Rosan Roeslani?

Baik Rosan Roeslani maupun Sandiaga Uno tampaknya tidak mengalami akibat negatif dari keterlibatan mereka dengan Berau Coal. Roeslani saat ini menjabat ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), sementara Sandiaga Uno terpilih sebagai Wakil Gubernur Jakarta, pada tahun 2017, dan mencalonkan diri sebagai wakil presiden pada pemilihan umum bulan April 2019.

Jika Sandiaga Uno menjadi wakil presiden, dia akan menjadi salah satu orang paling berpengaruh di salah satu negara terbesar dan berpenduduk terbanyak di dunia.

Pemerintahan yang terbentuk setelah pemilihan umum di bulan April 2019 harus menyelidiki semua pertanyaan yang muncul dalam laporan ini. Mereka juga perlu mengurangi secara drastis jumlah pembangkit listrik tenaga batu bara dalam perencanaan ketenagalistrikan 10 tahun ke depan serta membuat rencana komprehensif untuk peralihan energi, berpindah dari batu bara menuju energi terbarukan. Sandiaga Uno harus menjawab persoalan ini dan memberi keterangan yang sejelas-jelasnya mengenai pembayaran-pembayaran tersebut, demi kepentingan publik.

Risiko investor pada sektor batu bara Indonesia

Pada akhir 2012, investor telah membeli obligasi Berau Coal senilai US$950 juta. Sementara itu, keuangan perusahaan sedang dikuras melalui pembayaran jutaan dolar yang nilai bisnisnya sangat sedikit atau bahkan tak ada sama sekali.

Dengan ambruknya harga batu bara dunia serta lubang besar pada neraca keuangannya, maka Berau Coal tidak mampu lagi membayar utang-utang dan mengalami kegagalan dalam membayar obligasinya. Tiga tahun kemudian, para pemegang obligasi yang telah meminjamkan modal hampir senilai satu miliar dolar ke Berau Coal, masih bernegosiasi untuk mendapat pembayaran kembali piutang-piutang mereka.

Salah satu investor besar, pemodal Inggris, Nat Rothschild, menyingkir dari kerunyaman itu dengan reputasi bisnis yang ternoda dan kerugian yang diperkirakan mencapai nilai US$80 juta.

Kisah Berau Coal ini merupakan peringatan bagi bank dan investor yang sedang mempertimbangkan untuk membiayai pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara Indonesia – uang Anda tidak aman di sektor batu bara.

Bank swasta dan bank pemerintah harus melihat kembali secara saksama keputusan mereka untuk berinvestasi dalam sektor batu bara Indonesia. Mereka harus menghindari pembiayaan proyek pertambangan batu bara baru dan pembangkit listrik tenaga batu bara di Indonesia, dan mereka harus menghentikan pembiayaan perusahaan dan layanan konsultasi ke perusahaan Indonesia yang sangat bergantung pada tenaga batu bara. Dan, yang terpenting, mereka harus membatasi semua paparan kepada perusahaan Indonesia yang terlibat dalam sektor batu bara, serta membuat rencana dengan tenggat yang jelas untuk mencapai ini semua.

Sumber daya